Kamis, 22 Mei 2014

cerpen-Seperti Sebutir Biji





           
Seorang laki-laki paruh baya dengan janggut tebalnya mengakhiri perkuliahannya tepat di jam 13.20, kemudian meninggalkan ruangan diiringi dengan keriuhan oleh para mahasiswa dan mahasiswi. Beberapa dari mereka segera berhambur keluar ruangan, namun tak sedikit yang masih stay on. Salah satunya gadis berwajah khas arab, bermata jeli dan berkerudung merah jambu serempak keluar kelas bersama ketiga sahabatnya. Gadis pemilik nama Robiah itupun pamit pada ketiga sahabatnya, tepat saat mereka tiba di lobi fakultas. Jadwal kuliah memang telah usai namun biasanya ia dan ketiga sahabatnya akan bertandang ke masjid dekat kampus, untuk melaksanakan sholat dan ngobrol. Namun kali ini Robiah tak bisa ikut serta dalam kebiasaan mereka di hari selasa ba’da dzuhur itu, Bukan karena saat itu ia sedang haid, tapi ada hal yang harus ia kerjakan saat ini, di rumah. Jadilah mereka berpisah. Tampak ketiga sahabatnya beranjak menuju masjid. sedang robiah beranjak menuju parkiran.
Belum sempat sampai di tempat parkiran ia bertemu salah satu teman pondoknya dulu. Zahira. Perempuan berwajah oriental dengan lesung pipit di pipi kanan dan kirinya. Mereka memang satu kampus namun amat jarang bertemu, maka kala mereka berpas-pasan seperti ini tak bisa dipungkiri lagi jika perbincangan mengalir hangat.
 “Ana kangen rumah, Bi.” Celoteh Zahira tiba-tiba, ditengah pembicaraan mereka.
Robiah amat tahu anak kos seperti Zahira pasti jarang pulang, apalagi rumahnya yang jauh di Bogor. Otomatis zahira rindu rumahnya. Ia pun amat melihat kerinduan Zahira dari balik matanya yang mungil.
“Yaudah kamu pulang say, besok nggak ada mata kuliah lagi kan?” Seru Robiah bersemangat. Zahira hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Jadi mau pulang kapan?”
“Emmm sekarang bi, tapi…”
 “Tapi Kenapa Za?” Tanya Robiah mengeruatkan alis melihat mimik Zahira yang tampak bingung.
“Nggak kenapa-kenapa, yaudah kamu mau pulang ya? Hati-hati yaa.”
“Eittt, tunggu, Zaa… kamu belum jawab pertanyaanku. Pasti ada sesuatu deh, udah cerita aja kenapa, kamu kebiasaan ada masalah disembunyiin.” Zahira hanya tersenyum tipis mendengar celotehan robiah.
“Emmm Aku mau pulang tapi nggak ada bensin. Hehehe. Emmm aku boleh minjem uang nggak sama kamu? Lima belas ribu aja deh, buat isi bensin, soalnya aku cuma punya lima ribu. Tapii, kalo kamu nggak ada, nggak usah kok bi.”
“Ya Allah jadi, gitu, kamu bilang aja say. Aku ada kok. Bentar yah.” Robiah segera mengambil uang dari dompetnya.
“Inii say, semoga cukup yah.” Ujar Robiah memberikan selembar uang berwarna biru dongker pada Zahira.
“Yaa Ampun bii, ini kebanyakan, aku minjem lima belas ribu aja kok.”
“Nggak apa-apa say, ini buat pegangan di jalan say, kamu kan perjalanan jauh, nanti kalo ada apa-apa gimana? Kalo cuma mengang lima belas ribu.”
“Nggak say, aku cuma mau pinjem lima belas ribu, aku tukerin yaa uangnya.” Seru Zahira melangkah pergi namun robiah terlebih dahulu menjegatnya.
“Nggak usah Za, pegang aja, oke.” Zahira segera memeluk Robiah.
“Makasih banyak bi, aku pinjem dulu yaa uangnya. Nanti aku akan ganti secepatnya.”
“Iya say, udah santai aja. Terserah kamu. mau dibalikin apa nggaknya, yang pasti ini buat kamu. jangan dipikirin yaa.” Ujar Robiah lagi, Zahira kembali memeluk Robiah.
“Yaudah sekarang, meding kamu siap-siap pulang, nanti kemaleman lagi.” Ujar Robiah melepas pelukan Zahira lalu mengikis air mata Zahira yang runtuh.
“Iya, sekali lagi, makasih banyak yaa say.”Robiah hanya menganggu senyum.
Sepeninggal Zahira, Robiah mengembangkan senyum. Ia sama sekali tak menyesal telah memberikan uang satu-satunya yang ada di dompetnya untuk temannya itu, ia merasa amat lega telah meringankan beban Zahira, sahabatnya. Ia tahu ia butuh untuk membeli sesuatu, namun yang lebih ia tahu adalah sahabatnya lebih membutuhkannya. Apa jadinya kalau Zahira hanya membawa uang lima belas ribu saja dengan perjalanan sedemikian jauhnya. Ia berharap semoga bermanfaat dan ia berharap Zahira sampai rumah dengan selamat dan tidak terjadi apa-apa. Ia pun bersyukur, bensin yang ia miliki pada motornya masih bisa digunakan untuk perjalanan pulang.
***
Hitamnya langit tampak indah dihiasi oleh ribuan bintang, mengiringi keriuhan di sebuah majlis dibelahan kota Jakarta selatan, yang bernamakan majlis Al-Istiqomah, sorak-sorak anak-anak di pojok-pojok ruangan semakin menggema. Salah satunya kebisingan pada lingkaran anak-anak di pojok kanan majlis menyebutkan nama-nama malaikat yang dibimbing oleh Robiah. Mengajar mengaji memang rutinitasnya setiap habis magrib.
“Ayoo coba diulang lagi.” Seru Robiah  mengadahkan tangannya, menyuruh para muridnya untuk mengulang hafalan mereka.
“Jibril, Mikail, isrofil, izroil, munkar, nakir, rokib, atid, malik, ridwaaaannn.” Teriak kedua belas anak-anak yang mayoritas kelas  5 dan 6 sd itu.
“Alhamdulillah, semuanya hafal dengan baik, udah waktunya untuk pulang ayo adek-adek baca doa kafaratul majlis.”
Dengan lantang dan penuh semangat, para muridnya membaca doa bersamaan. Usai berdoa satu persatu mereka pamit pulang dan menyalami Robiah. Setelah semua muridnya pergi, iapun segera beranjak menuju rumahnya yang bersebelahan dengan majlis milik babehnya itu. Tiba dikamar mungilnya ia melihat handphonenya berbunyi, satu sms mendarat dari sahabatnya Zahira, yang mengabarkan bahwa ia baru saja sampai rumah dengan selamat. Bibir Robiahpun mengembangkan senyum dan mengucap hamdalah. Dalam angannya ia teringat perbincangannya dengan Zahira sore tadi saat Zahira menelponnya.
“Assalamualaikum, Robiah. Biii… makasih banyak ya, atas pinjaman kamu tadi, coba aku bawa pas-pas uangnya, mungkin aku nggak bisa benerin ban motor aku yang bocor. Mana perjalanan masih jauh. Makasih banyak yaa bi.”
“Alhamdulillah kalo gitu, hati-hati yaa, nanti kalau sudah sampai rumah kabari.”
Mengingat percakapan tadi sore Robiah semakin bersyukur. Dimana uang yang ia berikan sangat bermanfaat untuk sahabatnya.
Tok, tok, tok. Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Robiah segera beranjak dari kamarnya. Lalu membuka pintu ruang tamu. Tampak seorang wanita paruh baya tersenyum dan mengucapkan salam. Robiah segera menyalaminya. Lalu mempersilahkan wanita itu masuk.
“Ada apa bu?” Tanya Robiah membuka pembicaraan diantara mereka.
“Ini Kak Robiah, Ibu mau bilang makasih banyak, Kak Robiah udah ngajarin Adel. Sekarang dia pinter baca iqronya dan seneng banget kalo berangkat ngaji.”
“Alhamdulillah kalo gitu, Kakak juga seneng banget, Adel mah mang cepet pahamnya.”
“Oya ibu nggak bisa lama-lama, ini buat Ka Robiah.” Ibu itu memberikan sebuah amplop pada Robiah saat mereka bersalaman, sontak robiah kaget.
“Lho bu, Adel kan baru beberapa hari ngajinya.”
“Nggak apa-apa Ka robiah, anggap ini rasa syukur ibu ya. Yaudah ibu pamit ya, Ka.”
“Iya terima kasih banyak ya bu.”
Sepeninggal Ibu dari anak muridnya itu, mata robiah nan jeli berkaca-kaca. Melihat amplop yang ia ngenggam, Alhamdulillahi robbil a’lamin. Bertambah rasa syukurnya tatkala melihat isi dari amplop putih itu yang berisi dua lembar uang seratus ribuan. Bibirnya tak henti mengucap hamdalah. Air matanya tak henti runtuh. Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Besitnya.
***
Pagi dengan sejuta syukur yang terpanjat, Robiah memberi tahu mengenai kenikmatan Allah yang ia dapatkan tadi malam pada Ummi dan Babehnya. Keduanya tampak bahagia.
“Maka dari itu Ka, jangan berputus dari yang namanya sedekah. Dan harus ikhlas jugaa. Kalo nggak ikhlas sama aja dong.” Celoteh babeh.
“Iya beh, oya beh, itu tadi kakak liat diruang tamu ada laptop, dua sound, layar proyektor, LCD ama printer. Itu babeh beli beh? Bukanye babeh udah punya laptop?” Babeh hanya cekikan mendengar serentetan pertanyaan anak perawannya.
”Alhamdulillah itu juga keajaiban sedekah dari Allah, Ka.”
Babehpun menceritakan dari mana datangnya barang-barang yang disebutkan oleh Robiah. Berawal dari kejadian kemarin sore. Saat itu babeh kedatangan seorang teman dengan membawa beberapa kardus yakult.
“Pak, saya sedang butuh uang, saya dapet bantuan dari teman untuk menjual yakult-yakult ini, apa bapak mau membelinya?”
Berhubung saat itu yang ada di kantong sang babeh hanya uang seratus lima puluh, maka babeh segera memberikan uang itu.
“Ini Pak, dikantong saya ada uang segini, semoga cukup.”
“Wah Pak, yakultnya belum ada kalo segini uangnya. Saya cuma bawa beberapa aja. Gimana pak?”
“Udah ngga apa-apa, ini buat bapak, dan yakult-yakult ini bapak bawa lagi dah yak.”
“Alhamdulillah ini bener pak?”
“Iyaa bener.”
“Alhamdulillah, makasih pak, semoga majlis yang bapak dirikan ini semakin berkah, bermanfaat dan maju.” Babeh hanya tersenyum dan mengamini.
Dan tak disangka malamnya, seorang datang dengan membawa barang-barang berupa laptop, dua sound, printer, layar proyektor dan LCDnya, tepatnya saat itu Robiah sudah terlelap dalam buaian mimpi. Barang-barang ini untuk digunakan dan dimanfaatkan babeh di majlis. Pesan seorang yang memberikan barang-barang itu. Uang yang dikeluarkan babeh pada sore kemarin, diganti berlipat ganda dengan barang-barang yang harganya jutaan.
Subhanallah, Kembali air mata Robiah basah oleh haru atas cerita yang disampaikan babeh padanya. Ia tahu ini adalah rizqi yang disampaikan Allah melalui hamba-hambanya. Ia tahu Allah tak pernah tidur. Bahkan ia tahu janji Allah selalu ada, dan selalu melekat dalam nadi. Bahwa Allah selalu menggati segala yang kita beri dengan berlipatganda. Apalagi ia tahu janji Allah sudah tercantum pada kitab suci Al-Qur;an, salah satunya pada ayat  surat Al-baqoroh yang berbunyi “perumpamaan orang yang mrnginfakkan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang yang dia kehendaki, dan Allah maha luas, maha mengetahui.”
Dan kini dalam benaknya tak pernah ada keraguan lagi tentang nikmat-nikmat Allah yang tiada tara. Kembali ia menyelami kenikmatan Allah dengan bersholawat. Rasanya ia tak jemu untuk menyisihkan lagi dan lagi hartanya untuk orang yang membutuhkan. Karena sesungguhnya sebagian di hartanya itu ada haq orang lain.


Minggu, 27 Oktober 2013

Amazing Ramadhan

Pagi ini terasa masih amat ngatuk apalagi semalam baru bisa tidur nyenyak tepat jam 12. Namun ada kegiatan yang harus dikerjakan, jadilah kaki-kaki ini melangkah melewati beberapa toko-toko yang masih tertutup, padahal jam telah menunjukkan pukul 8 pagi. Maklumlah masih dibulan suci otomatis para pedagang akan membuka kios-kios mereka agak siangan. Akhirnya tak terasa sampai di kampus, aku segera menemui salah seoang yang sedari tadi menungguiku didepan lobi fakultas yang bertuliskan “Fakultas Ilmu tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian menemukan salah satu teman berkacamata minus, namanya  Leni.
 Segera melangkah menuju tempat baksos, kegiatan sosial di bulan Suci yang diadakan oleh salah satu UKM di kampus yang aku geluti. Ternyata lokasi baksos cukup jauh. Walau dengan berjalan kaki kami tetap melangkah semangat menapaki jalan-jalan berkerikil dan panjang, pasalnya tak ada angkot yang berlalu lalang di daerah ini. Sesampai ditempat tujuan tampak para peserta yang terdiri dari anak-anak telah berkumpul rapi disebuah rumah. Seperti rumah singgah. Walau sedikit berantakan dengan sekitarnya rumah-rumah warga di perkampungan pemulung, namun suasana terasa begitu hangat dengan kepolosan mereka.
Kemudian kami beranjak menuju masjid tempat acara akan dilaksanakan. Tak disangka lumayan sulit mengatur peserta-peserta yang masih kecil-kecil. Mereka berlari kesana-kemari tiada henti. Dengan keceriaan dan kepolosan yang mereka tampakkan. Namun itu membuat suasana menjadi meriah. Para peserta yang dikelompokan ke dalam beberapa kelompok mentoring. Aku pun ikut membaur bersama anak-anak di kelompok A. mereka masih terlihat imut-imut dan kecil-kecil. Apalagi tingkah-tingkah mereka yang begitu manja. Ingin dipangkulah, digendong dan dipeluk-peluk. Terlihat ada binar kebahagiaan mengikuti kegiatan positif di bulan ramadhan ini. apalagi mereka begitu semangat saat ditanya apakah mereka puasa. Mereka segera mengacungkan tangan.
“Aku puasaaa…” serempak mereka berceloteh.
Karena aku bagian konsumsi, dimana harus menyiapkan makanan untuk berbuka nanti maka tepat selepas dzuhur aku beranjak dari masjid. sangat disayangkan padahal aku masih ingin berada diantara adik-adik yang sibuk mempersiapkan acara pertunjukkan dari tiap-tiap kelompok mentoring tadi. Pasti pertunjukkan yang lucu dan meriah.
Di rumah singgah milik Ibu Tio, aku banyak mendengar cerita tentang rumah singgah mungil ini sambil memotong daging-daging buah melon, aku tampak terharu dengan kegigihannya.
Waktu berputar hari mulai sore dan hujan masih membasahi bumi. Namun acara masih berjalan lancar, sambil menunggu waktu berbuka kami memberikan hadiah-hadiah pada anak-anak yang telah menang dalam lomba pertunjukkan tadi, mereka tampak bahagia. 
Adzan berkumandang, anak-anak segera melahap menu berbuka yang kami bagikan. Sungguh senangnya melihat kecerian kecerian mereka, dan tak lupa kami memberikan beberapa bingkisan dan rizqi untuk mereka. Rasanya tak sia-sia kami mencari dana untuk baksos beberapa bulan yang lalu, dan begitu bahagia dapat berbagi dengan mereka, para anak-anak yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Acara tadi seakan menyadarkanku bahwa disebagian apa yang kumiliki ada hak mereka, ada yang harus aku bagi pada mereka para saudara-saudaraku. Sungguh ramadhan penuh berkah, bulan yang mulia, yang mampu menerangi hati untuk peduli.


Selasa, 12 Februari 2013

kalung imitasi

Di suatu malam seorang Ayah membacakan cerita untuk anak perempuannya. setelah membacakan ceritta, si Ayah bertanya kepada anaknya:
"Nak, apa kamu sayang Ayah?"
si anak menjawab, " Tentu saja aku sayang Ayah"
sang Ayahpun tersenyum lalu bertanya, "kalau begitu, boleh ayah meminta kalungmu?"
lalu si anak menjawab," Ayah aku sayang ayah tapi aku juga sayang sama kalung ini..."
lalu ayahnya berkata," ya sudah tidak apa-apa, ayah hanya bertanya saja" si ayah lalu pergi.

Di malam yang berkutnya selam 3 hari berturut-turut, ayahnya menanyakan hal yang sama dan si anak pun menjawab dengan kata-kata yang sama.

si anak pun berfikir sambil memegangi kalung imitasi kesayangannya itu, kenapa tiba-tiba ayah menginginkan kalung ini? kalung yang paling aku sayangi, dan kalung ini pun pemberian Ayah juga."

malam berikutnya, sang ayah menanyakan hal yang sama, lalu si anak bertanya, " ayah, ayah tau aku sayang sama ayah dan kalung ini. tapi kalau ayah mau kalung ini, yasudah aku berikan ke ayah"

si anak pun memberikan kalung imitasinya dan ayahnya mengambilnya dengan tangan kiri, lalu ayahnya memasukkan tangan kananya ke saku kanan dan mengambil kalung berbentuk sama namun emas asli. ayahnya mengenakan pada leher anaknya. seraya berkata,
"Anakku, sebetulnya kalung ini sudah ada disaku ayah sejak pertama kali ayah meminta kalungmu, tapi ayah menunggu memberikannya sendri kalung itu dan ayah gantikan dengan yang lebih baik dan indah". si anak pun menangis terharu.

sering kali kita merasa Tuhan tidak adil. Tuhan yang memberikan tapi kenapa Tuhan juga yang mengambilnya. kadang kita selalu sakit hati, kecewa dan sedih, namun tidakkah kita tau, disaat Allah mengambil sesuatu yang berharga dari kita, ternyata Allah punya rencana lain yang lebih indah dan Allah mau menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah kita miliki sekarang.

Jadi,
# terimalah apapun yang kita alami (bersabar)\
# Berilah apa yang harus kita berikan (beramal)
# Kembalikan apa yang diminta oleh Allah (ikhlas) dan
# tetaplah bersyukur, maka rizkimu akan dilipat gandakan.

*semoga bermanfaat ^_^

Selasa, 05 Februari 2013

sebuah ceirta


KABUT RINDU
Hasna masih terdiam menyimak serentetan pertanyaan dari pembawa acara. Wajahnya menampakkan ketenangan. Terlihat pula dari senyuman yang kerap kali ia sunggingkan tak  ada kekhawatiran. Segala jawaban yang telah diutarakannya pun terdengar bijak tanpa ada kegugupan, begitu mantap ia mengatakannya tanpa rasa ragu. Tak seperti suasana hatinya yang begitu rindu, rindu akan sosok yang berada jauh disana. Hingga pada sebuah kesempatan sang pembawa acara tiba-tiba menghubungi seseorang.
 “ Halo, Assalamualaikum pak!” Seru sang pembawa acara mencari suara yang tengah dihubunginya.
“Ya, waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.” Suaranya sangat ia kenal. Ia segera memanggilnya.
“Abi bagaimana keadaan abi disana?” tanyanya lembut melontarkan kerinduannya, namun tetap dalam keadaan tenang.
“Alhamdulillah hingga hari ini Abi masih diberikan kesehatan oleh Allah, Ummi.” Jawab suara dari seberang, pembicaraanpun mengalir seketika. Suasana menjadi mengharukan. Namun ia tetap tenang, isak tangisnya ia tahan. Setetespun tak ia lelehkan airmatanya.  Ia tak ingin menguraikan kerinduannya dengan tangisan. Ia masih mengingat pesan dari orang terkasihnya itu.
Seorang yang tengah berjuang dibelahan dunia sana mengajarinya untuk tetap sabar dan tegar. Maka hingga hari ini pun ia masih berusaha untuk tenang tanpa rasa khawatir. Ia yakin Allah yang akan senantiasa menjaga dan melindungi belahan jiwanya itu. bahkan melebihi keyakinannya. Iapun rela atas apapun yang mungkin terjadi nanti. Ia sudah mantapkan untuk sepenuhnya mendukung jihad dari teman hidupnya itu. seperti yang telah ia utarakan pada pembawa acara dan pemirsa yang menonton siaran langsung wawancara terhadapnya ditengah ia mendengar suara yang sangat ia rindukan itu.
Seorang arsitek muda yang sedang mengemban tugas yang tentunya sangat berbahaya bagi dirinya. Namun dengan tekad yang kuat ia bulatkan niatnya dalam misi pembangunan RS Indonesia di daerah pelosok kota Gaza. Sekaligus untuk missi membantu ummat muslim dijazirah Palestina. Tanpa rasa takut ia arungi segala ancaman bahaya yang kerap mengintai setiap detiknya. Bahkan detik itupun bisa saja nyawanya akan melayang. Namun rasa jihad yang kian membara, menembus ruang hatinya.
Kini ia tak mementingkan nyawanya, jiwa kemanusiaanyalah kini yang mengembara dalam hatinya. Sempat nyawanya hampir terenggut, dimana pada saat itu ia hendak berwudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Perlahan ia angkat tangannya untuk mengambil air, namun tiba-tiba seorang menarik lengannya. Ia pun berlari bersama kaki kecil itu, orang-orang disekitarnya pun berlari. Seketika suatu melayang kearah tempat mereka berpijak begitu kilat, dengan sekuat tenaga mereka mencoba menghindar. Dan benda itu mendarat seketika, kakinya pun terhenti, tangannya menelungkup, sekian detik tubuhnya terjerembab. Begitu terdengar suara yang menggeleggar bagai petir yang mengamuk, percikan api menyatu bersama asap layaknya pertujunkan kembang api yang sangat dahsyat. Serpihan bangunan telah diluluh lantahkan oleh benda itu. Takbir kian bergema. Allahhu Akbar! Allahhu Akbar! Allahu Akbar!
Dengan seruan takbir yang kian lantang. Sebagian dari para pemuda Palestine melontarkan batu-batu kerikil menyerbu tank-tank yang menerobos, melindasi puing-puing kehacuran. Semakin liar para pemuda muslim Palestine menyulut kobaran amuk jihad mereka. Dan hasan terlihat tak berdaya. Sandi-sandi tulang rusuknya begitu terasa nyeri. Beberapa tetes darah merembes dari balik kulit kakinya yang bersih. Wajahnya menyimpan rasa sakit. Sekuat tenaga ia coba untuk bangkit, namun sia-sia, sebagian tubuhnya terbenam bersama serpihan bangunan yang telah hancur, seorang bocah Palestina masih didekapnya begitu erat. Atas izin Allah ia pun segera terselamatkan. Namun mata seorang anak Palestine terlihat sembab oleh tangis menggenggam erat lengannya. Bocah itu yang tadi lari bersamanya setia mengiringinya hingga tubuhnya terbaring disebuah mobil ambulans.
 Hasna, sebagai istri terlihat sangat bangga dan kagum mendengar cerita singkat dari suaminya itu. ia pun tak kaget atas pernyataan yang dilontarkan oleh suaminya atas pertanyaan dari sang pembawa acara.
“Saya tak pernah takut apabila suatu saat Allah memanggil saya. Yang terpenting saya telah mengemban tugas mulia ini dan saya hanya berharap istri saya dan anak-anak beserta keluarga ikhlas.”
“ummi ikhlas bi. Abi jangan takut, anak-anak selalu menyayangi dan merindukan abi disini. Kami sayang abi.” Timpal hasna mengakhiri pembicaraanya dengan sang suami tercinta. Wawancara pada malam itupun berakhir.
***
Hasna masih sangat mengingat akan perpisahannya dengan suaminya, sejak dua minggu yang lalu. Saat itu, di malam yang sunyi, hanya terdengar rintikan hujan yang mengguyur kota. Ia duduk bersama suaminya di kursi rotan di beranda rumahnya. Ia membisu, hatinya gelisah. Sedang suaminya begitu menikmati suasana itu dengan kopi hangat buatannya. Seketika mata suaminya tertuju padanya, ia hanya menunduk, mulutnya seperti kaku untuk berbicara. Matanya mulai berembun, Suaminya menatapnya lekat-lekat. Dengan menarik nafas dalam-dalam Hasna melirik suaminya, matanya bertemu. Seucap kata ia lontarkan dengan penuh kepastian. membuat senyuman dari balik bibir sang kekasih, ia pun tersenyum. Seketika Hasan memeluknya erat.
Kini Hasna benar-benar melepaskan sang suami untuk berjihad. Walau ia memang telah mendukung dan merelakan kepergian suaminya, namun entah mengapa air mata itu meleleh pula demi menyaksikan kepergian suaminya di bandara hingga pesawat meluncur. Segera ia seka air matanya. Ini adalah bagian dari resiko yang ia dan suaminya ambil.
Kekhawatiran pun mulai hadir semenjak sang suami tak sedikitpun memberi kabar beberapa hari setelah keberangkatannya, beriringan dengan berita mengenai genjatan dari tentara Israel yang kian menjadi-jadi. Dan kondisi kota Gaza yang semakin mencekam dan pilu, Ia pun terbayang akan sosok suaminya. Terlintas lah rasa takut akan kehilangan. Entah mengapa kecemasan demi kecemasan kian melanda dirinya. Rasa khawatir mulai menggelayuti hatinya, ditambah lagi dengan berbagai firasat buruk tentang sang suami. Tapi ia tetap sabar dan mencoba untuk tenang, ia yakin suaminya baik-baik saja. Bukankah keberangkatan sang suami berasal dari restunya.
Akankah kini suaminya yang tak memberikan kabar telah syahid bersama para syuhada lainnya?. Namun jika memang suaminya telah tiada mengapa tidak ada kabarnya?. Wallahualam bishoaf. Pikirnya.
Hingga pada suatu hari rasa penasarannya pun meledak. Segera ia bergegas hilir mudik mencari segala informasi mengenai kondisi kota Gaza terkini. Mulai dari media massa hingga media cetak, bahkan kepada kerabat-kerabatnya, namun hasilnya nihil. Ia tak sama sekali mendapatkan informasinya. Hatinya semakin kalut. Ia memang mengikhlaskan sang suami namun nyatanya itu sangat berat baginya. Rasa khawatir itu susah sekali untuk ditepis. Kerinduannya pun kian menjalar dan berkabut.
Bersama waktu yang kian bergulir ia tak pernah meninggalkan doa dalam sholatnya untuk keselamatan sang suami beserta para mujahid disana. Hingga pada akhirnya ia menemukan jalan untuk bisa menepis segala rasa penasarannya. Dari salah seorang teman jama’ah majlis taklim yang ia ikuti, ia medapatkan sebuah alamat. Alamat seorang wartawan dari salah satu saluran tivi swasta yang akan berangkat ke kota Gaza untuk meliput kondisi mengenaskan disana. Tentunya hasna sangat membutuhkan bantuan wartawan itu, untuk bisa mendapatkan kabar secara langsung mengenai keadaan suaminya yang sudah seminggu lebih tidak diketahui keberadaannya.
***
Dengan menggadeng kedua anaknya ia berangkat menuju kota Jakarta, tempat dimana wartawan itu tinggal. Empat jam perjalanan dari bandung menuju Jakarta dengan sebuah bis cukup melelahkan. Ditambah berbagai rewelan dari anak-anaknya yang masih belia. Akhirnya dengan rasa lelah dan keringat yang mengguyur disetiap langkah kaki, ia temukan rumah itu. Begitu terlihat sepi. Tak disangka Sayyid, wartawan muda itu telah berangkat menuju bandara sejak tadi pagi, tepatnya dua jam lagi pesawat yang ditumpangi oleh sayyid akan meluncur. Kaget bukan kepalang, badanya pun mulai lemas. Wajahnya merah tergores sinar mentari. Nafasnya tersenggal. Namun ia bangkit, Ia tak mau perjuanganya pupus. Dengan menggendong anak bungsunya yang masih berumur empat tahun dan menggandeng putrinya, ia arungi terik mentari yang menyengat. Tak butuh 2 jam untuk sampai di bandara dengan sebuah taksi. Seorang tetangga dari wartawan tersebut membantunya mencari. Semoga saja wartawan itu belum berangkat, Harapnya. Tinggal dua puluh lima menit lagi keberangkatan pesawat dan Hasna belum menemukan sosok Sayyid. Yang ia temukan hanya para rombongan pengantar wartawan tersebut, sedang Sayyid telah berada dipesawat yang sebentar lagi akan terbang. Harapannyapun mulai sirna. Keluarga dari sang wartwanpun simpati padanya dan berusaha tuk membantunnya.
Tanpa diduga tiba-tiba Sayyid hadir dihadapan mereka. Inilah pertolongan Allah. Dengan segera Hasna memberikan sebuah amplop padanya. Ia mengutarakan maksudnya dalam amplop itu, karena Sayyid harus buru-buru kembali ke pesawat. Ia hanya mengatakan “tolong saya, kamu baca surat ini. semoga kebaikanmu dibalas Allah.” dan Sayyidpun berlalu. Ternyata sekembalinya sayyid karena ada suatu barang yang tertinggal, sebuah handycam yang tengah digenggam Ibunya. Allah memberikan pertolongan dengan cara yang tak diduga.
Para keluarga dan kerabat yang mengantar dua orang wartawan yang pergi ke kota Gaza itupun terharu atas perjuangan Hasna. Hingga dua hari kemudian ia mendapatkan undangan wawancara dari salah satu acara siaran berita di saluran tivi dimana Sayyid bekerja. Dan dalam wawancara itulah pertama kalinya ia mendengar suara suaminya. Sebelumnya pun ia telah mendapatkan kabar tentang keadaan suaminya melalui e-mail oleh Sayyid.
***
Pagi ini ia harus pulang, setelah menginap selama tiga hari di Jakarta, tepatnya di rumah keluarga Sayyid. Orang yang telah membantunya. Setelah pamitan ia dan kedua anaknya pun mohon diri.
“mba’ hasna, nggak usah sungkan-sungkan ya main kesini. Hati-hati ya” pesan ibunda dari sayyid. Dengan kedua buah hatinya ia kembali kerumahnya.
Tak terasa rintikan airmatanya jatuh demi mengingat percakapannya tadi malam dengan sang suami. Ia segera menghapusnya, lalu tersenyum. Ia ingat akan janji Allah dan kegigihan beserta cinta dari suaminya. kembali ia memandangi wajah mungil anak-anaknya yang sedang terlelap dipangkuannya. Farha dan farid.
 “sayang, anak-anak ummi dan abi yang sangat kami cintai karena Allah. Kita sama-sama berjuang ya sayang menghadapi setiap detik yang Allah berikan pada kita. Seperti saudara-saudara kita dan juga abi yang sedang berjuang menghadapi cengkaman dari musuh-musuh kita. Ummi akan selalu menjaga dan membimbing kalian. Anak-anak ummi yang sholeh dan sholehah.” Ujar bathinnya mengelus lembut pipi kedua anaknya itu.
Ia sangat sadar perjuangannya tak sebanding dengan perjuang para bunda diluar sana, bahkan perjuangan para Bunda ditanah Palestine, mereka mengorbankan nyawa mereka demi keselamatan keluarga dan anak-anak mereka. Semangat mereka membuatnya semakin bersukur dan tegar.
***
Kakinya melangkah tergesa-gesa bersama kaki-kaki mungil anak-anaknya. Kerudung panjangnya kian berkibar. Senyumnya kian merekah. Sudah dua bulan berlalu. Berita mengenai genjatan dahsyat di Gaza pun mulai mereda walau rasa khawatir akan serbuan yang mungkin akan kembali masih ada. Yang pasti akhir-akhir ini berbagai siaran meyiarkan kota Gaza mulai aman. Hasna pun bernafas lega.
Dan di hari ini, ia akan mengukir sejarah hidupnya. Dimana hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Seketika langkahnya terhenti, diantara kerumunan orang-orang ia mencoba menelusup bersama dua buah hatinya. Mencari sosok seorang yang telah lama ia rindukan. Tetes airmata bergulir dari balik matanya. Ia benar-benar tak kuasa menahan kerinduannya lewat tangis demi melihat sosok itu kini didepan matanya. Nafasnya seperti terhenti, matanya terbelalak melihat sosok itu menghampirinya sedikit tertatih-tatih dengan dua tongkat ditangan kanan dan kirinya. Segera ia peluk orang yang sangat ia rindukan itu.
“Abiii….” Teriak riang kedua anaknya menuai kerinduan, ikut  berhambur memeluk tangan abinya itu.
Hasan segera menyeka airmata istrinya itu. lalu memeluk erat ketiga orang yang sangat ia cintai. Walau dengan kaki kanan yang menggatung, ia masih tetap tersenyum lebar. perjuangannya ditanah Gaza memang telah melenyapkan satu dari bagian tubuhnya, namun itu membuatnya bahagia karena telah melakukan suatu hal yang tak ternilai yakni manisnya perjuangan dan kepedulian.
Tunggu saatnya hai yahudi, tentara Allah kan kembali
Kobarkan perang suci, bebaskan seluruh negeri
Jiwa-jiwa pemberani maju meski harus mati
Ingatlah wahai diri, syurga Allah tlah menanti
Tinggalkan semua mimpi, berjihad teguhkan hati
Khaibar khaibar ya yahud jaisyu Muhammad saufa ya’ud