Minggu, 29 November 2015


Yuk Kita Gerak !  

Bab 1 : Mulailah dengan Tulus


Untuk menjadi orang keren dan menginspirasi, kita mesti mengawalinya dengan niat yang ikhlas. Sebagaimana kita ketahui setiap kita akan melakukan segala hal kita awali dengan niat. Al-amalu bin niyat. Jika kita mendasarinya dengan niat yang tulus dan ikhlas, tentu langkah-langkah hidup kita akan slalu dinaungi dengan rahmatNya. Niat kita tentu akan mempengaruhi tujuan kita, jika kita berniat yang baik akan berdampak baik, dan sebaliknya. Niat adalah langkah kecil kita untuk memulai segala hal yang nantinya akan berdampak besar.
Nah tuk  jadi orang keren dan menginspiri kita awali segala kegiatan kita dengan niat-niat yang baik yang tulus, agar Allah senantiasa meridhoi setiap langkah hidup kita, serta memudahkannya. Ada beberapa hal yang mesti kita pahami tentang makna yang satu ini. Karena niat saja tidak cukup untuk sekedar mendapakan ridho-Nya.

1.      Ibadah tanpa putus
Inilah pondasi utamanya Ibadah. Shalat merupakan ibadah yang paling penting diantara ibadah-ibadah lainnya. Dibaratkan sebagai pondasi utama dalam bangunan amal sholeh seseorang. Shalat mengajarkan kita adab dalam mengabdikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, menunaikan shalat merupakan bukti keimanan yang agung dan wujud rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-Nya. Shalat baru akan sempurna, bila didasari oleh kekhusukan dan ketundukan diri hingga dapat kenikmatan yang tiada terhingga. Dengan shalat pula kita dapat menciptakan ketenanga jiwa dan raga.

Orang yang merasakan nikmatnya shalat, dia akan tahu bahwa dia tidak melakukan Takbir, membaca surah al-fatihah saja, demikian pula dia tidak melakukan rukuk, atau sujud saja, tapi setiap aktivitas ibadah dari rangkaian ibadah shalat memiliki rahasia dan pengaruh ibadah yang tidak di dapatkan dari selainnya. Sebagaimana setiap ayat dari ayat-ayat al-fatihah adalah ibadah, dan mengandung kenikmatan dan perasaan tersendiri yang dirasakan oleh orang yang membacanya.
          Shalat merupakan taman hati, penyejuk pandangan, kelezatan dan mengolahragakan aggota. Dengan demikian, shalat merupakan kenikmatan, dimana dengan shalat hati dan anggota tubuh sekalian beribadah kepada-Nya,dan menjadikan peran hati pada shalat yang paling penting dan paling utama dari anggota tubuh yang lain, yaitu pasrah dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan-Nya, kebahagiaan dekat dengan-Nya dan kenikmatan denga cinta dan kegembiraanya berada di sisi-Nya, serta berpaling dari beribadah kepada selain-Nya. Demikian halnya dengan menyempurnakan hak-hak beribadah hingga mereka berada di jalan yang di ridhai-Nya. Rasulullah Saw adalah penikmat shalat yang sesungguhnya , sampai beliau pernah bersabda,”Shalat telah dijadikan permata hatiku[1].shalat bukan sekedar hobi atau kesukaan, tetapi telah menjadi permata hati yang beliau mendapatkan puncak kenikmatan di dalamnya. Karena itu tidak heran ketika beliau dalam perjalanan, selalu menjadikan shalat sebagai sarana istirahat beliau dari penatnya perjalanan. Beliau selalu menyuruh bilal untuk azan dengan berkata,”Bilal beri kita istirahat dengan shalat !”



[1] Ibnu qoyyim al-jauziyyah, cita rasa shalat. nakhlakh publishing. jakarta. 2007.  hal

Sabtu, 21 November 2015

Yuk Kita Gerak!
Bergerak menebar inspirasi

1. Mulailah dengan tulus
-ibadah tanpa putus
-sehat jasmani dan rohani
2. Mengelola waktu
-komitmen yg tinggi
-rutin menulis dan membaca
3. Belajar menginspirasi
-inspirasi yang bertebaran
-syukur tiada henti
-belajar menjadi pemimpin
4. Mengeksplore potensi
-update kompetisi
-menembus tantangan
- berkarya tanpa batas
5. Menjadi pemimpin
-menebar kebaikan
-merealisasikan mimpi

Jumat, 13 November 2015

Kenapa aku harus menulis?

Nikmatnya Menulis

Kenapa aku harus menulis? Pertanyaan itu seakan menyedotku kedalam pusaran waktu bertahun-tahun lalu, mengorek kembali masa dimana pertama kalinya aku mulai bergelut dengannya. Mengorek kembali alasanku menuai mimpi sederhana lewat menulis. Awalnya hanya karena aku senang membaca, sejak sd aku sudah mulai senang membaca, mulai buku-buku bergenre fiksi maupun nonfiksi, namun aku lebih suka buku fiksi seperti novel, Karena membaca novel seakan mengajakku berimajinansi dan melihat dunia baru. dengan membaca itu juga menambah wawasanku semakin luas. 
Dan buku-buku yang kubaca mampu mempengaruhiku untuk juga ingin bisa menulis seperti mereka para penulis yang mampu mempengaruhi orang lain. Menyalurkan inspirasi dan motivasi pada banyak orang diluar sana. Bukan sekedar coretan, tapi satu suntikan dahsyat untuk berkelana bersamanya menebarkan inspirasi. 
Bukan hanya itu, menulis mampu membuatku mengungkapkan resah gelisahku selama ini. Menyuarakan hati yang mungkin tak bisa kuungkapkan lewat lisan. Mengkespresikan rasa syukurku pada Allah atas segala karunia dan nikmat-Nya. Meski menulis bukan semudah yang kubayangkan. Namun dengan menulis aku bisa menyapa orang lain yang entah dimana. Berkelana mengelilingi dunia dengan imajinasi. Seperti perkataan mas Seno Gumira Ajidarma “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatau cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana.”
Banyak orang yang merasa kesulitan untuk menulis, tak tahu harus memulai tulisan dari mana, susah mendapatkan ide, bingung dan lain sebagainya, menurutku kendala-kendala itu bukan hambatan, karena setiap penulis pemula pasti akan merasakannya, termasuk aku. Aku sering sekali merasakannya bahkan sampai sekarang. Tapi sebenarnya menulis itu hal yang mudah jika kita menulis dengan hati. Ya, dengan hati. Seperti perkataan Mba Helvi Tiana Rosa “Menulislah dengan wawasan dan hati, agar bisa mencerdaskan dan sampai ke hati-hati yang lainnya”. 
Rasakan dan nikmati menulis dengan hatimu. Kini yang mulai aku terapkan dari diriku sendiri. ( dan jangan lupa untuk membaca. 
Kenapa aku harus menulis? Banyak hal yang membuatku harus menulis, ya meski tulisan-tulisannku belum sebagus bang tere liye, mba Asma Nadia, Kang Abik dll, namun aku ingin menjadi salah satu pemahat sejarah lewat ukiran penaku. Membuat sejarah baru untuk bangsaku. Sejarah yang ketika aku sudah tidak ada di dunia ini lagi aku masih bisa mengisnpirasi orang lain. Memberikan pengaruh bagi orang lain. Bukan sekedar menulis untuk diriku tapi untukmu. Maka aku terus belajar menulis. 
Walau saat ini, aku sudah banyak mengirim tulisan ke berbagai kompetisi menulis cerpen, essay maupun novel banyak yang tidak lolos, aku tetap ingin menulis. Kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda kan? Para penulis terkenal juga pasti pernah merasakan yang namanya kegagalan itu, maka aku belajar darinya, belajar dari kegagalan itu, belajar untuk bangkit dan kembali menorehkan tinta kedalam tulisan. Karena aku tak akan kenal yang namanya sukses jika aku tak pernah gagal. Apalagi ada beberapa cerpenku yang lolos. Itu artinya Allah membukakan pintu gerbang untukku menjadi penulis. Karena jika aku menyerah itu artinya aku siap menyesal nantinya.
Kenapa aku harus menulis? Imajinasiku mengembara tentang keseruan dan keasyikan menulis, dengan menulis aku bisa membuat dunia baru dalam hidupku. Menuangkan imajinasi yang bertebaran dilangit-langit pikiranku kedalam tulisan yang bisa kubagi dengan orang lain. Dari situ aku seakan mampu menjelejahi dunia. Meski aku mungkin belum pernah menjejakinya. Menjejaki daerah-daerah itu, tempat-tempat itu, Negara-negara itu. Semoga kelak benar-benar bisa menjejakinya, hehehe. Dengan menulis aku juga mampu mengenal berbagai karakter orang, mengenal budaya baru, mendapat tantangan baru, pengalaman baru dan sebagainya, karena aku suka dengan hal-hal baru. Dan menulis sudah mewarnai hidupku. Karena setiap pengalaman hidup kita bisa kita jadikan tulisan dan kita bagi kepada orang lain agar tulisan kita itu bermanfaat. Karena tulisan itu seperti air yang mengalir. 
Aku menulis bukan sekedar ingin menjadi kaya atau terkenal, itu nomor yang kesekian ratus. Aku menulis untuk bersyukur, aku menulis untuk memaknai hidup, aku menulis untuk mengenal dunia, aku menulis untuk mengisnpirasi, aku menulis untuk merapikan kenangan dan aku menulis untuk suatu perubahan.  Karena menulis itu gratis, Maka menulislah kawaann! 
Kenapa aku harus menulis? Sebagaimana dikatakan mas Tendi “kenapa kamu harus menulis? karena kita punya tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan”. Dan aku ingin menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab memperbaiki keadaan itu. Bukan sekedar duduk tenang melihat dunia hanya dari balik jendela kamar, kantor atau apalah. 
Dan sekali lagi, Kenapa aku harus menulis? Karena aku ingin menjadi salah satu ipemahat sejarah, pengukir kenangan, penebar inspirasi, penjelajah dunia, peretas karya dan orang yang mampu memperbaiki keadaan (
Idza shodaqol azmu wadoha sabilu, jika ada kemauan pasti ada jalan. Maka teruslah menulis, teruslah berkarya tanpa batas. 

Hulya Ashfi😊
Sabtu, 14 November 2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Kisah Ramadhan Rara : Semanis Buah Kurma
Created by Hulya Ashfie

Kaki-kaki kecil beralaskan sandal jepit lusuh masih semangat menapaki jalan yang berbatu, sekuat tenaga tangannya membawa box berisi 60 biji gorengan. Tampak dari wajah mungilnya ia tersenyum riang menyapa terik matahari yang amat panas tapi itu tak membuatnya patah semangat untuk segera sampai tempat tujuan. Gadis mungil dengan stelan busana muslim berwarna ungu yang sudah pudar ini masih berumur 7 tahun namanya Rara. Siang menjelang sore seperti ini tatkala teman-teman sebayanya asik menunggu adzan magrib dengan bermain di teras rumah, ia memilih membantu sang nenek tercinta untuk berjualan takjil di depan sebuah ruko toko beras dekat taman kota. Biasanya menjelang magrib tempat itu akan ramai oleh orang yang berlalu lalang mencari makanan untuk berbuka.

Sudah 20 menit ia berjalan seketika ia singgah disebuah musholla. Tempat ia biasa mengaji, ya di dekat rumah mungilnya memang jarang musholla, maka jika Rara ingin mengaji ia harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Di musholla itu ia belajar mengaji dengan ustadz Latif tanpa dipungut biaya. Hari ini tidak ada jadwal mengaji karena ustadz Latif sedang pergi mengajar di tempat lain. Biasanya Rara mengaji dan setoran hafalan sehabis Ashar. Sekedar melepas lelah Rara bersandar di dinding musholla berwarna putih itu. Ia beristirahat sejenak sambil menunggu adzan ashar sebelum meneruskan perjalanannya.
*
Di hari kedua Ramadhan ini gorengan yang Rara jual laku keras. Pasalnya ia berjualan dengan penuh semangat menawarkan gorengan yang ia jajakan di depan toko beras kepada setiap orang yang lewat dengan suara lantang meski sedikit serak.
"Ayo Ibu-bapak dibeli gorengannya enak dehh buatan nenek Rara, kalo nanti nggak enak Rara gak jualan lagii dehh disini, ayoo ayoo"
beberapa pedagang disebelahnya tertawa mendengar celotehan Rara.
"Ini berapa dek?" Salah seorang wanita paruh baya dengan rambut yg dikonde menghampiri Rara.
"Satunya seribu bu,tapi klo ibu belinya 10rb" dengan menunjuk tangan 10 "Rara bonusin satu biji"
Ibu itu tersenyum.
"Yaudah kalo gitu ibu beli 10rb yaa biar dapet bonus."
"Alhamdulillah, ibu mau beli yang mana aja? Ada risol, bakwan tahu bla bla " Rara menyebutkan semua gorengan yang ia bawa.
Ibu itu pun memilih gorengan yang diinginkan, sedang Rara memasukkan gorengan yang telah dipilih ke dalam kantung plastik. Setelah ibu itu membayar Rara seraya berceloteh. "Terima kasih bu sudah membeli dagangan Rara semoga berkah dan mendapat rizqi yang berlimpah." Ibu itu tersenyum dan mengamini.
Hari semakin sore dan dagangan Rara sudah tinggal 5 biji. "Alhamdulillah sisa hari ini lebih sedikit dari kemaren" Gumam Rara melihat gorengan jualannya. Iapun segera merapikan dagangannya. Dan beranjak pergi.
Saat ia melewati pedagang kurma langkahnya terhenti. Sudah dua kali bulan Ramadhan ia tak pernah lagi mencicipi buah khas bulan puasa itu semenjak ayahnya harus pergi meninggalkan ia, nenek dan kakak angkatnya dua tahun lalu. Dulu ayahnya selalu menyempatkan untuk membelikan buah kurma. Namun sekarang keadaan sudah berbeda. Sejak kemarin Rara ingin sekali bisa membelinya. Tapi ia ingat ini uang milik neneknya, uang untuk memenuhi kebutuhan yang lain yang lebih penting. Apalagi cicilan kontrakkan belum lunas. Akhirnya si mungil Rara hanya mendesah meninggalkan pedagang kurma yang tampak ramai pembeli.
Dan seperti hari kemarin ia mampir ke tempat salah seorang nenek peminta-minta dipinggir jalan, ia berikan 2 biji gorengan miliknya. Lalu meneruskan perjalanannya karna jam sudah menunjukkan pukul setengah 6. Kembali ia melewati musholla al-ikhlas. Disitu ia bertemu dengan ustadz Latif yang baru pulang mengendarai motor. 
Rara, dari mana?"
"Rara abis jualan gorengan ustadz, Alhamdulillah laku. Oya ustadz mau? ini penghabisan lhoo, tinggal 3 biji, hehehe."
"Wah boleh deh ustadz borong."
Rara segera memasukkan tiga gorengan kedalam kantong plastik lalu memberikan pada Ustadz, namun ustadz Latif tampak kebingungan saat merogoh kantong celana, sepertinya ia tak mendapatkan apapun dari kantongnya.
"Nggak usah bayar ko ustadz, ni buat ustadz aja."
"Eh jangan gitu, ustadz kan niatnya beli." Tutur Sang ustadz yang kemudian melihat kantong yang tergantung di motornya.
"Nah ustadz bayar pakai ini saja yaa." Sang ustadz memberikan kantung itu kepada Rara.
Saatt melihat isi kantong itu Rara sangat kaget karena ternyata isinya sekotak kurma.
"Ustadz!!! Ini bener buat Rara?" Sang ustadz hanya mengagguk.
"Yeyeyeye... Makasih Ustadz." Ustadz Latif hanya tertawa melihat kegembiraan Rara.
"Ustadz, Rara pamit yaa, nanti nenek nyariin Rara lagii hehehem."
"Iya Hati-hati ya Ra."
Sesampainya di rumah Rara menceritakan perihal pemberian ustadz Latif padanya dengan sangat bahagia. Ah... Rara memberikan pelajaran yang amat berharga bagiku gadis sekecil itu mampu berusaha dengan upayanya sendiri demi membahagiakan nenek tercintanya dan mengajarkan tentang manisnya berbagi. terbayar letihnya, kesabarannya, dan ikhlasnya dengan sekotak kurma. Perjuangannya berbuah manis, manisnya semanis kurma yang ia dapatkan

Kamis, 22 Mei 2014

cerpen-Seperti Sebutir Biji





           
Seorang laki-laki paruh baya dengan janggut tebalnya mengakhiri perkuliahannya tepat di jam 13.20, kemudian meninggalkan ruangan diiringi dengan keriuhan oleh para mahasiswa dan mahasiswi. Beberapa dari mereka segera berhambur keluar ruangan, namun tak sedikit yang masih stay on. Salah satunya gadis berwajah khas arab, bermata jeli dan berkerudung merah jambu serempak keluar kelas bersama ketiga sahabatnya. Gadis pemilik nama Robiah itupun pamit pada ketiga sahabatnya, tepat saat mereka tiba di lobi fakultas. Jadwal kuliah memang telah usai namun biasanya ia dan ketiga sahabatnya akan bertandang ke masjid dekat kampus, untuk melaksanakan sholat dan ngobrol. Namun kali ini Robiah tak bisa ikut serta dalam kebiasaan mereka di hari selasa ba’da dzuhur itu, Bukan karena saat itu ia sedang haid, tapi ada hal yang harus ia kerjakan saat ini, di rumah. Jadilah mereka berpisah. Tampak ketiga sahabatnya beranjak menuju masjid. sedang robiah beranjak menuju parkiran.
Belum sempat sampai di tempat parkiran ia bertemu salah satu teman pondoknya dulu. Zahira. Perempuan berwajah oriental dengan lesung pipit di pipi kanan dan kirinya. Mereka memang satu kampus namun amat jarang bertemu, maka kala mereka berpas-pasan seperti ini tak bisa dipungkiri lagi jika perbincangan mengalir hangat.
 “Ana kangen rumah, Bi.” Celoteh Zahira tiba-tiba, ditengah pembicaraan mereka.
Robiah amat tahu anak kos seperti Zahira pasti jarang pulang, apalagi rumahnya yang jauh di Bogor. Otomatis zahira rindu rumahnya. Ia pun amat melihat kerinduan Zahira dari balik matanya yang mungil.
“Yaudah kamu pulang say, besok nggak ada mata kuliah lagi kan?” Seru Robiah bersemangat. Zahira hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Jadi mau pulang kapan?”
“Emmm sekarang bi, tapi…”
 “Tapi Kenapa Za?” Tanya Robiah mengeruatkan alis melihat mimik Zahira yang tampak bingung.
“Nggak kenapa-kenapa, yaudah kamu mau pulang ya? Hati-hati yaa.”
“Eittt, tunggu, Zaa… kamu belum jawab pertanyaanku. Pasti ada sesuatu deh, udah cerita aja kenapa, kamu kebiasaan ada masalah disembunyiin.” Zahira hanya tersenyum tipis mendengar celotehan robiah.
“Emmm Aku mau pulang tapi nggak ada bensin. Hehehe. Emmm aku boleh minjem uang nggak sama kamu? Lima belas ribu aja deh, buat isi bensin, soalnya aku cuma punya lima ribu. Tapii, kalo kamu nggak ada, nggak usah kok bi.”
“Ya Allah jadi, gitu, kamu bilang aja say. Aku ada kok. Bentar yah.” Robiah segera mengambil uang dari dompetnya.
“Inii say, semoga cukup yah.” Ujar Robiah memberikan selembar uang berwarna biru dongker pada Zahira.
“Yaa Ampun bii, ini kebanyakan, aku minjem lima belas ribu aja kok.”
“Nggak apa-apa say, ini buat pegangan di jalan say, kamu kan perjalanan jauh, nanti kalo ada apa-apa gimana? Kalo cuma mengang lima belas ribu.”
“Nggak say, aku cuma mau pinjem lima belas ribu, aku tukerin yaa uangnya.” Seru Zahira melangkah pergi namun robiah terlebih dahulu menjegatnya.
“Nggak usah Za, pegang aja, oke.” Zahira segera memeluk Robiah.
“Makasih banyak bi, aku pinjem dulu yaa uangnya. Nanti aku akan ganti secepatnya.”
“Iya say, udah santai aja. Terserah kamu. mau dibalikin apa nggaknya, yang pasti ini buat kamu. jangan dipikirin yaa.” Ujar Robiah lagi, Zahira kembali memeluk Robiah.
“Yaudah sekarang, meding kamu siap-siap pulang, nanti kemaleman lagi.” Ujar Robiah melepas pelukan Zahira lalu mengikis air mata Zahira yang runtuh.
“Iya, sekali lagi, makasih banyak yaa say.”Robiah hanya menganggu senyum.
Sepeninggal Zahira, Robiah mengembangkan senyum. Ia sama sekali tak menyesal telah memberikan uang satu-satunya yang ada di dompetnya untuk temannya itu, ia merasa amat lega telah meringankan beban Zahira, sahabatnya. Ia tahu ia butuh untuk membeli sesuatu, namun yang lebih ia tahu adalah sahabatnya lebih membutuhkannya. Apa jadinya kalau Zahira hanya membawa uang lima belas ribu saja dengan perjalanan sedemikian jauhnya. Ia berharap semoga bermanfaat dan ia berharap Zahira sampai rumah dengan selamat dan tidak terjadi apa-apa. Ia pun bersyukur, bensin yang ia miliki pada motornya masih bisa digunakan untuk perjalanan pulang.
***
Hitamnya langit tampak indah dihiasi oleh ribuan bintang, mengiringi keriuhan di sebuah majlis dibelahan kota Jakarta selatan, yang bernamakan majlis Al-Istiqomah, sorak-sorak anak-anak di pojok-pojok ruangan semakin menggema. Salah satunya kebisingan pada lingkaran anak-anak di pojok kanan majlis menyebutkan nama-nama malaikat yang dibimbing oleh Robiah. Mengajar mengaji memang rutinitasnya setiap habis magrib.
“Ayoo coba diulang lagi.” Seru Robiah  mengadahkan tangannya, menyuruh para muridnya untuk mengulang hafalan mereka.
“Jibril, Mikail, isrofil, izroil, munkar, nakir, rokib, atid, malik, ridwaaaannn.” Teriak kedua belas anak-anak yang mayoritas kelas  5 dan 6 sd itu.
“Alhamdulillah, semuanya hafal dengan baik, udah waktunya untuk pulang ayo adek-adek baca doa kafaratul majlis.”
Dengan lantang dan penuh semangat, para muridnya membaca doa bersamaan. Usai berdoa satu persatu mereka pamit pulang dan menyalami Robiah. Setelah semua muridnya pergi, iapun segera beranjak menuju rumahnya yang bersebelahan dengan majlis milik babehnya itu. Tiba dikamar mungilnya ia melihat handphonenya berbunyi, satu sms mendarat dari sahabatnya Zahira, yang mengabarkan bahwa ia baru saja sampai rumah dengan selamat. Bibir Robiahpun mengembangkan senyum dan mengucap hamdalah. Dalam angannya ia teringat perbincangannya dengan Zahira sore tadi saat Zahira menelponnya.
“Assalamualaikum, Robiah. Biii… makasih banyak ya, atas pinjaman kamu tadi, coba aku bawa pas-pas uangnya, mungkin aku nggak bisa benerin ban motor aku yang bocor. Mana perjalanan masih jauh. Makasih banyak yaa bi.”
“Alhamdulillah kalo gitu, hati-hati yaa, nanti kalau sudah sampai rumah kabari.”
Mengingat percakapan tadi sore Robiah semakin bersyukur. Dimana uang yang ia berikan sangat bermanfaat untuk sahabatnya.
Tok, tok, tok. Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Robiah segera beranjak dari kamarnya. Lalu membuka pintu ruang tamu. Tampak seorang wanita paruh baya tersenyum dan mengucapkan salam. Robiah segera menyalaminya. Lalu mempersilahkan wanita itu masuk.
“Ada apa bu?” Tanya Robiah membuka pembicaraan diantara mereka.
“Ini Kak Robiah, Ibu mau bilang makasih banyak, Kak Robiah udah ngajarin Adel. Sekarang dia pinter baca iqronya dan seneng banget kalo berangkat ngaji.”
“Alhamdulillah kalo gitu, Kakak juga seneng banget, Adel mah mang cepet pahamnya.”
“Oya ibu nggak bisa lama-lama, ini buat Ka Robiah.” Ibu itu memberikan sebuah amplop pada Robiah saat mereka bersalaman, sontak robiah kaget.
“Lho bu, Adel kan baru beberapa hari ngajinya.”
“Nggak apa-apa Ka robiah, anggap ini rasa syukur ibu ya. Yaudah ibu pamit ya, Ka.”
“Iya terima kasih banyak ya bu.”
Sepeninggal Ibu dari anak muridnya itu, mata robiah nan jeli berkaca-kaca. Melihat amplop yang ia ngenggam, Alhamdulillahi robbil a’lamin. Bertambah rasa syukurnya tatkala melihat isi dari amplop putih itu yang berisi dua lembar uang seratus ribuan. Bibirnya tak henti mengucap hamdalah. Air matanya tak henti runtuh. Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Besitnya.
***
Pagi dengan sejuta syukur yang terpanjat, Robiah memberi tahu mengenai kenikmatan Allah yang ia dapatkan tadi malam pada Ummi dan Babehnya. Keduanya tampak bahagia.
“Maka dari itu Ka, jangan berputus dari yang namanya sedekah. Dan harus ikhlas jugaa. Kalo nggak ikhlas sama aja dong.” Celoteh babeh.
“Iya beh, oya beh, itu tadi kakak liat diruang tamu ada laptop, dua sound, layar proyektor, LCD ama printer. Itu babeh beli beh? Bukanye babeh udah punya laptop?” Babeh hanya cekikan mendengar serentetan pertanyaan anak perawannya.
”Alhamdulillah itu juga keajaiban sedekah dari Allah, Ka.”
Babehpun menceritakan dari mana datangnya barang-barang yang disebutkan oleh Robiah. Berawal dari kejadian kemarin sore. Saat itu babeh kedatangan seorang teman dengan membawa beberapa kardus yakult.
“Pak, saya sedang butuh uang, saya dapet bantuan dari teman untuk menjual yakult-yakult ini, apa bapak mau membelinya?”
Berhubung saat itu yang ada di kantong sang babeh hanya uang seratus lima puluh, maka babeh segera memberikan uang itu.
“Ini Pak, dikantong saya ada uang segini, semoga cukup.”
“Wah Pak, yakultnya belum ada kalo segini uangnya. Saya cuma bawa beberapa aja. Gimana pak?”
“Udah ngga apa-apa, ini buat bapak, dan yakult-yakult ini bapak bawa lagi dah yak.”
“Alhamdulillah ini bener pak?”
“Iyaa bener.”
“Alhamdulillah, makasih pak, semoga majlis yang bapak dirikan ini semakin berkah, bermanfaat dan maju.” Babeh hanya tersenyum dan mengamini.
Dan tak disangka malamnya, seorang datang dengan membawa barang-barang berupa laptop, dua sound, printer, layar proyektor dan LCDnya, tepatnya saat itu Robiah sudah terlelap dalam buaian mimpi. Barang-barang ini untuk digunakan dan dimanfaatkan babeh di majlis. Pesan seorang yang memberikan barang-barang itu. Uang yang dikeluarkan babeh pada sore kemarin, diganti berlipat ganda dengan barang-barang yang harganya jutaan.
Subhanallah, Kembali air mata Robiah basah oleh haru atas cerita yang disampaikan babeh padanya. Ia tahu ini adalah rizqi yang disampaikan Allah melalui hamba-hambanya. Ia tahu Allah tak pernah tidur. Bahkan ia tahu janji Allah selalu ada, dan selalu melekat dalam nadi. Bahwa Allah selalu menggati segala yang kita beri dengan berlipatganda. Apalagi ia tahu janji Allah sudah tercantum pada kitab suci Al-Qur;an, salah satunya pada ayat  surat Al-baqoroh yang berbunyi “perumpamaan orang yang mrnginfakkan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang yang dia kehendaki, dan Allah maha luas, maha mengetahui.”
Dan kini dalam benaknya tak pernah ada keraguan lagi tentang nikmat-nikmat Allah yang tiada tara. Kembali ia menyelami kenikmatan Allah dengan bersholawat. Rasanya ia tak jemu untuk menyisihkan lagi dan lagi hartanya untuk orang yang membutuhkan. Karena sesungguhnya sebagian di hartanya itu ada haq orang lain.